Hikikomori, Penyakit Sosial Yang Menginfeksi Remaja Jepang

Yoo… mina-san!! O-genki desu ka? nah kali ini gua akan ngebahas mengenai Hikikomori, mungkin beberapa dari kalian udah pernah denger atau bahkan mungkin kalian udah pada tau apa itu Hikikomori!? tapi meskipun gitu gua akan tetep bahas, soalnya gua bingung mau nulis pake materi apa lagi, akhirnya gua putusin pake materi ini, dari pada gak ada sama sekali *Plakkk. Wokeehh, gak usah panjang lebar lagi langsung aja Check This Out!

Jepang merupakan negara maju terbesar di Asia. Gak hanya maju secara ekonomi, tapi juga memiliki kemajuan di bidang teknologi, pendidikan, dan Informasi.

Namun di samping itu Jepang mengalami kemunduran di bidang sosial sebagai tumbal akan kemajuannya. Berbagai penyakit psikologis menyerang masyarakat karena tingkat stress yang semakin tinggi. Buat warga yang gak bisa bertahan, mereka akan ngambil jalan pintas dengan cara bunuh diri karena mereka udah gak kuat nahan tekanan. Selain itu Kemajuan juga mengubah cara bergaul di masyarakat. Penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah, serta pergaulan yang tanpa batas. Bagi korban penindasan, mereka akan jadi orang yang pendiam atau yang lebih parah mereka malah mengahkiri hidupnya. Selain itu juga ada orang yang ahkirnya mundur dari pergaulan dan menjadi Anti Sosial, orang-orang tersebut dijuluki Hikikomori.

Hikikomori berasal dari kata menarik diri. Kebanyakan hikikomori itu cowok, tapi ada juga sih yang cewek. Faktor penyebabnya gak begitu jelas, tapi publik berasumsi faktor keluargalah yang jadi penyebab terbesarnya, contohnya kayak hilangnya figur seorang ayah karena kerja dari pagi sampe larut malam hingga akhirnya gak sempet ngelakuin interaksi sama si anak, serta ibu yang dianggap terlalu manjain anaknya (mungkin karena jumlah anak yang dimiliki keluarga Jepang itu sedikit, makannya dimanjain). Selain faktor dari keluarga, penyebab terjadinya Hikikomori juga berasal dari faktor lingkungan sosial, contohnya bullying di sekolah, dll. Jumlah pastinya (Hikikomori) gak diketahui secara pasti, tapi ada yang memperkirakan sekitar 1 persen dari populasi Jepang. Ini artinya sekitar 1 juta orang Jepang jadi hikikomori. Hitungan yang lebih konservatif berkisar antara 100 ribu dan 320 ribu orang yang jadi hikikomori. Mereka rata-rata berusia 13-14 tahun.

Mungkin, orang-orang akan nganggap Hikikomori itu sama kayak Otaku. Weeeiiiittss, tunggu dulu! sebenarnya Hikikomori sama Otaku itu beda (Dari namanya aja udah beda *Plakk). Otaku adalah orang yang punya minat atau hobi yang berlebihan sehingga mereka mengabaikan kegiatan yang lain, tapi mereka masih berinteraksi dengan keluarga atau teman. Seperti penggemar komik yang berlebihan, atau orang yang suka sama idol grup secara berlebihan, dll. Tapi, rata-rata Hikikomori itu Otaku (Loh?!), Hikikomori jadi Otaku itu karena sebagai pelarian dari beban mereka dan agar mereka gak inget akan sakitnya pergaulan sosial itu. Tapi sekali lagi gua tegesin, Otaku itu belum tentu Hikikomori tapi Hikikomori itu pasti Otaku (Apaan sih?!).

Apa aja sih kegiatan yang mereka lakuin? tentu saja hanya diam di kamar, surfing di dunia maya, nonton anime, baca manga, bahkan kadang aktivitas makan dan buang air kecil dilakukan di kamar (WTF?!), mereka akan nampungnya di plastik atau botol.

Lantas gimana dong cara mereka menuhin kebutuhannya?!. Biasanya hikikomori akan keluar sebulan sekali untuk beli perlengkapan “Mengurung Dirii”nya, buat duitnya sendiri mereka dapet dari orangtua mereka, bahkan terkadang mereka maksa orangtuanya buat ngedapetin apa yang mereka ingin. Dan bahkan ada juga hal ekstrim yang dilakuin Hikikomori contohnya kayak nyulik gadis kecil buat “disimpen” sebagai “teman” di kamarnya (Jangan tanya ke gua, mereka ngelakuin apa aja berdua *Plakkk). mereka akan ngelepasin gadis itu kalo mereka mau, atau gadis itu harus nyari jalan keluarnya sendiri, atau bahkan dia gak akan pernah bisa keluar lagi……

Semakin tua seorang Hikikomori, semakin kecil kemungkinan dia bisa masuk lagi ke masyarakat. Jika seseorang setahun lebih jadi hikikomori, ada kemungkinan doi gak bisa balik normal lagi buat kerja atau ngebangun relasi sosial dalam waktu lama, nikah misalnya.

Walau para hikikomori gak punya teman di dunia nyata tapi mereka punya jaringan para hikikomori didunia maya. Kegiatannya?, mereka berbagi informasi tentang game yang baru release, atau ada anime baru, atau tentang artis cantik yang menjadi idola remaja. dan mereka berinteraksi tanpa pernah bertemu satu sama lain.

Mungkin fenomena ini belum banyak ada di Indonesia, tapi kita perlu waspada mulai dari sekarang. Ngejaga hubungan yang baik sama keluarga juga bisa jadi usaha pencegahan, keterbukaan satu sama lain, saling support, serta mau mendengarkan oranglain. Wokeehh, selesailah artikel kali ini! semoga lu enjoy n semoga artikel ini bia nambah wawasan lu tentang Jepang. Sekian dari gua sorry kalo ada salah-salah kata, Bye!

Oh iya! nih ada bonus video buat lu!

Tags:
No Response

Leave a reply "Hikikomori, Penyakit Sosial Yang Menginfeksi Remaja Jepang"